Translate

Tuesday, July 18, 2017

KH . Abbas Abdullah . Buntet Cirebon


Dia merupakan ulama Bessar Yang mempunyai Semangat Nasionalisme Tinggi, juga merupakan ulama yang sangat pemberani dan merupakan pejuang yang terkenal Punya kesaktian dan kekebalan, saat beliau menghadapi musuh. Selain itu dia merupan seorang ulama yang memberikan sumbangsih yang sangat tinggi di pondok pesantren Buntet cirebon, Tahun (1300-1365H)

Di samping Beliau juga sebagai seorang yang punya kanuragan dan kesaktian tinggi. beliau  tidak diragukan lagi mengenai Kesaktian dan kedalaman ilmu agamanya. dia mempunyai ribuan santri di pesatren Buntet. Cirebon dia juga Terkenal dengan ulama yang ahli fikih dan usul fikih serta beliau mempunyai wawasan yang sangat luas terutama dalam masalah permandingan madzab dan hilafiyah. disisi lain beliau juga mempunyai santri yang terkenal dengan ahli fikih Yaitu Prof. Dr. KH. Ibrahim Hesein

beliau merupakan Ulama kelahiran Cirebon Tgl 24 Dzul Hijjah 1300 H. sementara ayah handa beliau  beliau adalah KH. Abdul jamil bin KH. Muta'ad. beliau lahir dalam keluarga yang sangat kental akan agama. sejak masih kanak-kanak beliau sudah mendapatkan pendidikan dari ayahandanya langsung. beliau di ambil mantu oleh Kh. Muayyim pendiri pondok Pesantren Buntet.

sementara setalah dia belajar mengaji dari ayahandanya beliau meneruskan mengaji Di pesantren sukanasari, plered cirebon yang di asuh oleh KH. Nasuha. namun beliau tidak berhenti hanya sampai disitu. beliau masih melanjutkan ngaji di pesntren Jatisari dalam asuhan KH. Hasan. setelah beliau mengaji dalam Wilayah kasultanan cirebon beliau masih melanjutkan mengaji kejawa tengah dan jawa timur.

Jiwa Nasioanlisme KH. Abbas

dalam gejolak kemerdekaan KH. Abbas sudah tidak di ragukan lagi beliau mempunyanyi semangat dan jiwa Nasionalisme yang sangat tinggi. dalam pecahnya perang di surabaya tepatnya 10 November 1945 melawan tentara sekutu. yang kemudian semua ulama sepakat untuk memberangus tentara sekutu lahirlah Resolusi Jihad yang hal itu dilakukan musyawarah di Tebu Ireng 22 Oktober 1945. walau beliau pada saat itu sudah dalam usia sepuh beliau bukan menjadi komando di baris belakang tapi beliau menjadi komando terdepan dalam melawan penjajah.

setelah pertempuran itu terjadi KH. Abbas kena tembak tapi tidak mempan. dan setelah usai perang beliau ikut perundingan Linggar jati Cirebon yang melahirkan Perjanjian Linggar Jati (15 November1946). Perjanjian yang di buat dengan belanda tentu sangat menyakitkan bagi beliau. Karena Benda mengakui wilayah Indonesia hanyalah. Jawa Sumatra dan kalimantan. sedangakan yang lain masih dalam genggaman Belanda. setelah itu beliau jatuh sakit dan ahirnya beliau Wafat pada Hari Ahad 1 Rabiul Awal 1365 H. janazah beliau di makamkan Di kawasan pemakaman keluarga Buntet Cirebon


Itulah Informasi Saya Mengenai Syekh Abbas Buntet Cirebon 




Selanjutnya

Tuesday, July 11, 2017

Kebijakan MENDIKBUD Tendensius


Mengenai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 Tentang Hari Sekolah, sangat meresahkan dan menimbulkan gejolak di masyarakat. Kebijakan yang sedianya dilaksanakan pada tahun pelajaran 2017/2018 tersebut banyak mendapat penolakan dari berbagai komponen dan unsur masyarakat. Namun sampai hari ini kebijakan tersebut belum dicabut atau dihentikan.

Gejolak penolakan masyarakat atas Permendikbud tersebut dikarenakan banyak faktor. Penolakan masyarakat bukan hanya karena kebijakan tersebut akan menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan pendidikan keagamaan seperti TPQ dan Madrasah Diniyah yang sudah menjadi bagian penting dari pendidikan bagi masyarakat di Indonesia. Lebih dari itu kebijakan tersebut sangat tidak tepat diterapkan, mengingat beberapa aspek seperti; kondisi psikologis peserta didik, kondisi ekonomi orang tua, kondisi sosial dan budaya masyarakat, khususnya bagi masyarakat pedesaan yang notabenenya paling banyak terkena dampak atas kebijakan tersebut.

Kalau di lihat dari akar masalah secara substantif Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tersebut belum menyentuh dan mencerminkan pada persoalan penguatan karakter peserta didik melalui restorasi pendidikan karakter di sekolah, sebagaimana yang dicantumkan dalam bahan pertimbangan atas dikeluarkannya Permendikbud tersebut.

Permendikbud tersebut tidak menyasar kepada restorasi pendidikam karakter peserta didik. Konten kebijakan tersebut justru lebih banyak menyasar pada urusan pemenuhan beban jam kerja guru dan tenaga kependidikan yang bersifat adminitratif. Sehingga jargon restorasi pendidikan karakter peserta didik sebagaimana yang  dijadikan dasar menimbang dalam mengeluarkan Permendikbud tidak tampak dan dapat dikatakan hanya bualan semata.

Persoalan efektifitas restorasi pendidikan karakter melalui optimalisasi peran sekolah yang juga menjadi dasar pertimbangan Permendikbud tersebut adalah isapan jempol semata. Bahwa efektifitas pendidikan karakter tidak bisa dicapai hanya dengan memadatkan hari sekolah dari enam hari menjadi lima hari begitu saja. Efektifitas pendidikan karakter peserta didik perlu peran semua stakeholders pendidikan seperti orang tua, masyarakat, pemerintah, termasuk juga satuan pendidikan keagamaan seperti TPQ dan Madrasah Diniyah.

Dalih untuk meningkatkan efektifitas restorasi pendidikan karakter peserta didik, pelaksanaan Permendikbud tersebut justru akan mendestruksi pendidikan karakter peserta didik akibat hilangnya peran satuan pendidikan keagamaan yakni TPQ dan Madrasah Diniyah sebagai salah satu dari stakeholders yang ada, akibat dilaksanakannya kebijakan tersebut.

Kilau kita lihat eksistensi TPQ dan Madrasah Diniyah sebagai bagian pendidikan keagamaan dalam sejara panjang bangsa Indonesia, telah berperan besar dalam mendukung pendidikan nasional guna mewujudkan cita-cita bangsa.

Secara yuridis, Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tersebut bertentangan dan bertabrakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, sehingga Permendikbud nomor 23 Tahun 2017 adalah cacat hukum.

Parahnya pada praktiknya kondisi riil di masyarakat dalam hal teknis sangat jauh dari ideal apabila kebijakan tersebut benar-benar dilaksanakan. Banyak hal-hal teknis yang diabaikan dan tidak masuk dalam perhitungan dan pertimbangan dalam memutuskan kebijakan tersebut.

Penerapan kebijakan tersebut sudah tentu akan berdampak pada semakin melambungnya beban ekonomi orang tua sebagai akibat langsung bertambahnya biaya operasional sekolah. Lagi-lagi masyarakat miskin dan kurang mampu yang menjadi korbannya. Kebijakan pendidikan harusnya berpihak kepada rakyat dan tidak boleh mendiskriditkan kelompok tertentu. Kebijakan Lima Hari Sekolah (LHS) sama sekali tidak berpihak pada rakyat dan ini menjadi bencana bagi pendidikan nasional.


Selanjutnya

Monday, July 10, 2017

Mahasiwa dan Budak Materi


Kematian gerakan Mahasiswa adalah matinya nilai dan nalar. karena sudah penuh dengan otak kosong. percuma kalian baca buku Sukarno. buku Tanmalaka Karl marx Lenin. Stalin. buku Hatta buku syahrir itu semua omong kosong belaka. ideologi kalian hari ini sudah terjebak dalam dunia materi. katajaman otak kalian sudah tergantiakn dengan tumpukan uang dan iming-iming jabatan. Kini kita bertanya kemana gerakan mahasiswa hari ini? Apakah kalian semua tidur ataukah hanya jadi massa, aksi bayaran yang tak jelas arah gerakannya.

kita juga bertanya kenapa masih banyak orang yang mau kuliah dan mengejar perguruan tinggi toh ahirnya mereka akan jadi budak pabrik atau budak dari tuan yang menyuruhnya, bukankah hidup ini adalah kebebasan dan kemerdekaan. saatnya kita sadar bahwa bukanlah kita di cipta untuk di perbudak oleh majikan, atasan, ataupun seneor.

kita harus bebas sejak dalam pikiran menentukan jalan arah tujuan. harus kita selalu ingat dan kita tanamkan bahwa hidup ini bukanlah untuk menjadi budak dari materi. kalian aksi turun kejalan karena hanya tuntutan materi bukan kerena tuntutan perjuangan melawan ketidak adilan. saatnya kalian mahasiwa bertanya pada diri sendiri.

Bayak tugas yang harus kalian selesikan hari ini.  Bagi Mahasiwa baru apa tujuan kalian mengeyam pendidikan tinggi-tinggi toh kalian nati akan jadi budak, bahkan juga banyak yang jadi pengangguran. yang jelas mereka juga sudah pernah menjalani mengeyam pendidikan di peruguruan tinggi.

Kita akan bertanya pada mahasishwa jika 1928 lahirlah gerkan yang mampu manjadi sepirit tonggak perjuangan gerakan budi utomo sampai 1998 mahsiswa selalu hadir membawa perubahan. kini saya akan bertanya kalian ada di mana dan berada di posisi yang mana? ataukah kalian memang tak punya sikap layaknya jadi sorang banci yang tak punya nyali?

Saya katakan mahasiwa hari inji harus terus bergerak membawa perubahan yang lebih baik . tugas kalian buakan hanya mengerjakan tugas-tugas dari dosen tapi kalian punya tugas yang sangat bessar karena kelak kalianlah yang akan meminpin negra ini, jika kalian hari ini hanya menjadi mahsiwa yang bisa mengerjakan tugas dosen bersiap-sipalah kalian selama akan jadi budak.  (Sabda Perjuangan)

 
Selanjutnya

Sunday, July 9, 2017

Zaman Sikut-sikutan

Zaman sikut-sikutan siapa yang tidak kuat dia bakanlan kesikut dan dan terpental dari arus kehidupan atau dia bisa bertahan, namun tak mampu memberikan monopoli perlawanan. ia zaman iani memanglah zaman edan

antara benar dan slah serba jadi absurd. semua bisa saja jadi mungkin atau bankan sebaliknya menjadi hal yang sangat mustahil. barang tentu kita sering dengar"siapa kuat dialah yang bisa bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. maknya kita ini disebutnya dengan makluh adaptif.

Konon nenek moyang kita dulu juga suka berpindah-pindah alias bukan menjadi manusia yang Setagnan. ingat tapi yang jelas bukan mahluk homo ia. jagan di slah artikan. jadi wajar jika dalam hidupnya mereka sering berpindah dari satu tempat, ketempat yang lain. maklum dulu mereka masih belum punya rumah untuk bernaung.

jadi ia mereka mencari gua untuk mereka berlindung dari panas dan hujan. bukan berlindung pada yang milik modal dan juragan loh... sehingga mereka bisa menjadi makluk mandiri dan tidak bergantungan. ia mereka hanya bergantung pada tuhan dan alam. sehingga mereka cinta lingkungan nah beda dengan sekrang manusia sudah pada rakus di jual sama perusahan dan pemodal.

sementara itu seudah jelas akan menacam ekosistem kehidupan dan bumi ini jati rentan musibah melanda. rentan pertikaian juga rentan rebut jabatan. eh salah yang benar rentang lonsong banjir yang itu jadi langganan kita setiap musim hijan datang. kenapa hal itu terjadai ia wajar kerena ekosistem sudah tidak setabil Juga baca tulisan saya di Harkatnews.com
Selanjutnya

Zaman Dukun

Zaman perdukunan. zaman ini hanyalah milik para dukun dan tukang begal Begal pajak negara atau dukun yyang bisa membolak balikkan mana yang benar dan mana yang salah semuanya telah bekerja sama untuk menguras uang negara dan uang rakyat.

ia dukun itu telah mampu mamberikan jampe-jampe bagi segenap bangsa ini untuk menidurkar orang hidup dan mendiamkan orang yang sehat. bagai mana tidak semuanya itu telah merekan lakukan untuk berkompromi dengan para pejabat dan para begal di negara ini.

tukang begal semakin langgeng dengan barang yang di begalnya, sementara yang tidak bisa membegal mereka berusaha tuk jadi pembegal baru. sementara dukun itu telah siap dengan segala ilmu kanuragannya untuk membuat orang terlelap.

Barang kali orang sehat bisa semakin sehat. sementara  yang yang lemah semakin lemah di buat tak berdaya oleh para pemberangus negara ini ah ia sudahlah ini sekarang jaman dukun dan para begal besar
 kita juga sering meliahat mereka bersandiwara di pentas negara ini semantara kita sebagai rakyat hanya bisa menyaksikan mereka bersandiwara  Harkatnes.com

Selanjutnya